Senin, 05 September 2016

TEORI HUMANISTIK



MAKALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
“TEORI HUMANISTIK”

logo_unja1.png


NAMA                                    : NOVANI KURNIATY
NIM                                        : RSA1C115021
DOSEN PENGAMPU           : 1. Drs. FULDIARATMAN,  M. Pd
 2. Drs. HARYANTO, M. Pd



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA PGMIPA-U
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2015

TEORI HUMANISTIK


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
          Belajar adalah suatu proses perubahan pada diri individu yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuanya, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapanya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya penerimaanya.
          Dalam suatu pembelajaran juga perlu didukung oleh adanya suatu teori dan belajar, secara umum teori belajar dikelompokkan dalam empat kelompok atau aliran meliputi: (1) Teori Belajar Behavioristik, (2) Teori Belajar Kognitif, (3) Teori Belajar Sosial, dan (4) Teori Belajar Humanistik. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pemahaman tentang pengertian, tokoh-tokoh, prinsip, implikasi, dan aplikasi dari teori humanistik.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Teori Belajar Humanistik
          Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara  pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan  kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.
          Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar  ialah :
1. Proses pemerolehan informasi baru
2. Personalia informasi ini pada individu.
Teori humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian ilmu filsafat, kepribadian dan psikoterapi daripada bidang kajian-kajian psikologi dalam belajar.

2.2     Tokoh-Tokoh Teori Belajar Humanistik
Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah:
a.       Arthur Combs
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa peserta didik mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si peserta didik untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.

b.        Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
(1)      suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2)      kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

c.         Carl Rogers
Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu: (1) belajar yang bermakna dan (2) belajar yang tidak bermakna. Belajar yang bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan peserta didik.
Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar peserta didik menurut pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif dalam : (1) membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif agar peserta didik bersikap positif terhadap belajar, (2) membantu peserta didik untuk memperjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk belajar, (3) membantu peserta didik untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan pendorong belajar, (4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada peserta didik, dan (5) menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai peserta didik sebagaimana adanya. (Hadis, 2006: 72)

d.        Kolb
Menurut Kolb (Thobroni, Muhammad dan Alif Mustofa, 2011: 159-160) membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu sebagai berikut:
a.         Tahap pengalaman konkret
Pada tahap paling dini dalam proses belajarm seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mampu memiliki kesadaraan tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu.
b.         Pengalaman aktif dan reflektif
Pada tahap kedua, siswa mulai mampu mengadakan observasi terhadap suatu kejadian dan mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
c.         Konsepualisasi
Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar membuat abstraksi atau teori tentang suatu hal yang pernah diamatinya. Siswa diharapkan mampu membuat aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda mempunyai aturan yang sama.
d.        Eksperimentasi aktif
Pada tahap akhir, siswa mampu mengaplikasi suatu aturan umum ke situasi yang baru. Misalnya, dalam matematika, asal-usul sebuah rumus. Akan tetapi, ia juga mampu memaknai rumus tersebut untuk memecahkan masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya. Menurut kolb, sistem belajar semacam ini terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung tanpa disadari siswa.

e.         Honey Dan Mumford
Berdasarkan teori kolb, Honey dan Mmford dikutip (Thobroni, Muhammad dan Alif Mustofa, 2011: 160-161) membuat penggolongan siswa menjadi empat macam, yaitu tipe siswa aktivis, reflektot, teoretis dan pragmatis.
a.        Tipe siswa aktivis bercirikan mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru. Mereka cendrung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog. Namun, siswa semacam ini biasanya kurang skeptik terhadap sesuatu. Kadang, identik dengan sifat mudah percaya. Dalam proses belajar, mereka menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal barum seperti brainstrorming atau problem solving. Akan tetapi, mereka akan cepat merasa bosan dengan hal-hal yang memerlukan waktu lam dalam implementasi.
b.       Tipe siswa reflektor adalah sebaliknya. Mereka cendrung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusa, siswa tipe ini cenderung konservatif, yaiutu mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat, baik buruk suatu keputusan.
c.      Tipe siswa teoretis biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya sangat subjektif. Bagi mereka, berpikir secara rasional adalah sesuatu yang penting. Mereka juga biasanya sangat skeptik dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.
d.      Tipe siswa pragmatis biasanya menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Siswa tipe ini suka berlarut-berlarut dalam membahas aspek teoretis filosofis tertentu.
f.         Hebermas
Ahli psikologis lainnya adalah hebermas yang dalam pandangannya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini, hebermas mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
a.       Belajar teknis (Technical Learning)
Dalam belajar teknis, siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
b.      Belajar praktis (practical learning)
Dalam belajar praktis, siswa juga belajar juga belajar interaksi. Akan tetapi, pada tahap ini lebih dipentingkan adalah interaksi antara dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.
c.       Belajar emansipatoris (emancipatoris learning)
Dalam tahap ini, siswa berusaha mencapai pemahaman, kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan kultural dari suatu lingkungan.

2.3     Prinsip-Prinsip Teori Belajar Humanistik
Dalam buku Freedom To Learn karya Carl Rogers (Soemanto, 2006:139-140), ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :
a)         Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b)        Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c)         Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d)        Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e)         Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f)             Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g)        Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h)        Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i)          Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j)          Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
2.4     Implikasi Teori Belajar Humanistik
1.      Guru sebagai fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah sebagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berkualitas fasilitator.
2.      Guru mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya sebagai kekuatan pendorong yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
3.      Guru mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
4.      Guru menempatkan dirinya sebgai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok
5.      Guru mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksanakan tetapi sebagi andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
1.    Merespon perasaan siswa
2.    Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
3.    Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4.    Menghargai siswa
5.    Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6.    Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
7.    Tersenyum pada siswa
Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.






2.5     Aplikasi Teori Belajar Humanistik
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.         Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2.        Mengusahakan partisipasi aktif peserta didik melalui kontrak belajar yang bersifat jelas jujur dan positif.
3.        Mendorong peserta didik untuk mengembangkan kesanggupan peserta didik untuk   belajar atas inisiatif sendiri
4.        Mendorong peserta didik untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5.        Peserta didik di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
6.        Guru menerima peserta didik apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran peserta didik, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong peserta didik untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.           Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8.        Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi peserta didik. (Mulyati, 2005: 182)
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini tepat untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah peserta didik merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Peserta didik diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.









BAB III
PENUTUP

 3.1   Kesimpulan
1.        Teori belajar humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
2.        Tokoh-tokoh dari teori humanistik ini antara lain : Arthur Combs, Maslow, Carl Rogers, Kolb, Honey dan Mumford, dan Hebermas.
3.    Salah satu prinsip teori belajar humanistik adalah bahwa manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami. Artinya, seseorang secara alamiah memiliki rasa ingin tahu dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi terhadap dunianya.
4.        Implikasi dari teori belajar humanistik salah satunya guru sebagai fasilitator. Guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik, dan sebagainya.
5.        Penerapan atau aplikasi teori belajar humanistik ini tercermin dari peserta didik yang berperan sebagai pelaku utama yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri, sedangkan guru sebagai fasilitator (pendamping) dan motivator.

DAFTAR PUSTAKA

Darsono, Max. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press
Hadis, Abdul. 2006. Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Andi Offset
Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Thobroni dan Alif Mustofa. 2011. Belajar dan pembelajaran universitas. Bandung: Pustaka Belajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar