MAKALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
“TEORI HUMANISTIK”

NAMA : NOVANI
KURNIATY
NIM :
RSA1C115021
DOSEN
PENGAMPU : 1. Drs.
FULDIARATMAN, M. Pd
2. Drs. HARYANTO,
M. Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA PGMIPA-U
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2015
TEORI
HUMANISTIK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Belajar adalah suatu proses perubahan pada diri individu yaitu perubahan
tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Perubahan sebagai
hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan
pengetahuanya, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapanya, kemampuannya,
daya reaksinya dan daya penerimaanya.
Dalam suatu pembelajaran juga perlu didukung oleh adanya suatu teori dan
belajar, secara umum teori belajar dikelompokkan dalam empat kelompok atau
aliran meliputi: (1) Teori Belajar Behavioristik, (2) Teori Belajar Kognitif,
(3) Teori Belajar Sosial, dan (4) Teori Belajar Humanistik. Untuk mengetahui
lebih lanjut mengenai pemahaman tentang pengertian, tokoh-tokoh, prinsip,
implikasi, dan aplikasi dari teori humanistik.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Teori Belajar Humanistik
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara
pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya isi
dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang
pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan
kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang
paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita
amati dalam dunia keseharian. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk
“memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat
tercapai.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya,
yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri
sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang
ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada
proses belajar ialah :
1. Proses pemerolehan informasi baru
2. Personalia informasi ini pada individu.
Teori
humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian ilmu
filsafat, kepribadian dan psikoterapi daripada bidang kajian-kajian psikologi
dalam belajar.
2.2
Tokoh-Tokoh Teori Belajar Humanistik
Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik
antara lain adalah:
a. Arthur Combs
Combs berpendapat bahwa banyak guru
membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa peserta didik mau belajar apabila
materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah
menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana
membawa si peserta didik untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi
pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri
dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik
pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan
lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu
dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi,
hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu
terlupakan.
b.
Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua
hal :
(1)
suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2)
kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow
mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan
yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan
takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil
kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi
di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah
keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah
kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima
diri sendiri.
Maslow membagi
kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila
seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis,
barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah
kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia
menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan
oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi
belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum
terpenuhi.
c.
Carl Rogers
Roger membedakan dua ciri belajar,
yaitu: (1) belajar yang bermakna dan (2) belajar yang tidak bermakna. Belajar
yang bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran
dan perasaan peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam
proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek
perasaan peserta didik.
Menurut Roger, peranan guru dalam
kegiatan belajar peserta didik menurut pandangan teori humanisme adalah sebagai
fasilitator yang berperan aktif dalam : (1) membantu menciptakan iklim kelas yang
kondusif agar peserta didik bersikap positif terhadap belajar, (2) membantu
peserta didik untuk memperjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan
kepada peserta didik untuk belajar, (3) membantu peserta didik untuk
memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan pendorong belajar,
(4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada peserta didik, dan (5) menerima
pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai peserta didik sebagaimana
adanya.
(Hadis, 2006: 72)
d.
Kolb
Menurut Kolb (Thobroni, Muhammad dan
Alif Mustofa, 2011: 159-160) membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu
sebagai berikut:
a.
Tahap
pengalaman konkret
Pada
tahap paling dini dalam proses belajarm seorang siswa hanya mampu sekedar ikut
mengalami suatu kejadian. Dia belum mampu memiliki kesadaraan tentang hakikat
kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian
harus terjadi seperti itu.
b.
Pengalaman
aktif dan reflektif
Pada
tahap kedua, siswa mulai mampu mengadakan observasi terhadap suatu kejadian dan
mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
c.
Konsepualisasi
Pada
tahap ketiga, siswa mulai belajar membuat abstraksi atau teori tentang suatu
hal yang pernah diamatinya. Siswa diharapkan mampu membuat aturan-aturan umum
(generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda
mempunyai aturan yang sama.
d.
Eksperimentasi
aktif
Pada tahap akhir, siswa mampu mengaplikasi suatu aturan umum
ke situasi yang baru. Misalnya, dalam matematika, asal-usul sebuah rumus. Akan
tetapi, ia juga mampu memaknai rumus tersebut untuk memecahkan masalah yang
belum pernah ia temui sebelumnya. Menurut kolb, sistem belajar semacam
ini terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung tanpa disadari siswa.
e.
Honey Dan Mumford
Berdasarkan
teori kolb, Honey dan Mmford dikutip (Thobroni, Muhammad dan Alif Mustofa,
2011: 160-161) membuat penggolongan siswa menjadi empat macam, yaitu tipe siswa
aktivis, reflektot, teoretis dan pragmatis.
a. Tipe siswa aktivis bercirikan mereka yang suka melibatkan diri pada
pengalaman-pengalaman baru. Mereka cendrung berpikiran terbuka dan mudah diajak
berdialog. Namun, siswa semacam ini biasanya kurang skeptik terhadap sesuatu.
Kadang, identik dengan sifat mudah percaya. Dalam proses belajar, mereka
menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal barum seperti
brainstrorming atau problem solving. Akan tetapi, mereka akan cepat merasa
bosan dengan hal-hal yang memerlukan waktu lam dalam implementasi.
b. Tipe siswa reflektor adalah sebaliknya. Mereka cendrung sangat berhati-hati
mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusa, siswa tipe ini cenderung
konservatif, yaiutu mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat, baik buruk
suatu keputusan.
c.
Tipe siswa teoretis biasanya sangat kritis, senang
menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya sangat
subjektif. Bagi mereka, berpikir secara rasional adalah sesuatu yang penting.
Mereka juga biasanya sangat skeptik dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat
spekulatif.
d.
Tipe siswa pragmatis biasanya menaruh perhatian besar
pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Siswa tipe ini suka berlarut-berlarut
dalam membahas aspek teoretis filosofis tertentu.
f.
Hebermas
Ahli psikologis
lainnya adalah hebermas yang dalam pandangannya bahwa belajar sangat
dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama
manusia. Dengan asumsi ini, hebermas mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga
bagian, yaitu sebagai berikut.
a. Belajar teknis (Technical Learning)
Dalam belajar teknis, siswa belajar
bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Mereka berusaha menguasai dan
mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang
dibutuhkan untuk itu.
b. Belajar praktis (practical learning)
Dalam belajar praktis, siswa juga
belajar juga belajar interaksi. Akan tetapi, pada tahap ini lebih dipentingkan
adalah interaksi antara dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.
c. Belajar emansipatoris (emancipatoris learning)
Dalam tahap ini, siswa berusaha
mencapai pemahaman, kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan kultural
dari suatu lingkungan.
2.3
Prinsip-Prinsip Teori Belajar Humanistik
Dalam buku Freedom
To Learn karya Carl Rogers (Soemanto, 2006:139-140), ia menunjukkan
sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :
a)
Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b)
Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran
dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c)
Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi
mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d)
Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah
dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin
kecil.
e)
Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman
dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses
belajar.
f) Belajar yang
bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g)
Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam
proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h)
Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa
seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan
hasil yang mendalam dan lestari.
i)
Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan,
kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas
diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara
kedua yang penting.
j)
Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia
modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus
menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai
proses perubahan itu.
2.4
Implikasi Teori Belajar Humanistik
1.
Guru
sebagai fasilitator
Psikologi
humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini
adalah sebagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berkualitas
fasilitator.
2.
Guru
mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan
tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya sebagai kekuatan pendorong yang
tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
3.
Guru
mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas
dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
4.
Guru
menempatkan dirinya sebgai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan
oleh kelompok
5.
Guru
mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasannya dan juga
pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksanakan tetapi sebagi andil
secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah
:
1. Merespon perasaan siswa
2.
Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi
yang sudah dirancang
3.
Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4.
Menghargai siswa
5.
Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6.
Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan
untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
7.
Tersenyum pada siswa
Dari penelitian itu diketahui guru yang
fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa,
meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan
matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan
dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa
menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.
2.5
Aplikasi Teori Belajar Humanistik
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun
proses yang umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan
tujuan belajar yang jelas
2. Mengusahakan
partisipasi aktif peserta didik melalui kontrak belajar yang bersifat jelas jujur
dan positif.
3. Mendorong
peserta didik untuk mengembangkan kesanggupan peserta didik untuk belajar atas inisiatif sendiri
4. Mendorong
peserta didik untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara
mandiri
5. Peserta didik
di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri,
melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang
ditunjukkan.
6. Guru menerima
peserta didik apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran peserta didik, tidak
menilai secara normatif tetapi mendorong peserta didik untuk bertanggungjawab
atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7. Memberikan
kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8. Evaluasi
diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi peserta
didik. (Mulyati, 2005: 182)
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini tepat untuk diterapkan.
Keberhasilan aplikasi ini adalah peserta didik merasa senang bergairah,
berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan
sikap atas kemauan sendiri. Peserta didik diharapkan menjadi manusia yang
bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya
sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Teori belajar humanistik adalah suatu
teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia
serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
2. Tokoh-tokoh dari teori humanistik ini
antara lain : Arthur Combs, Maslow, Carl Rogers, Kolb, Honey dan Mumford, dan
Hebermas.
3. Salah satu
prinsip teori belajar humanistik adalah bahwa manusia itu mempunyai kemampuan
belajar secara alami. Artinya, seseorang secara alamiah memiliki rasa ingin
tahu dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi terhadap dunianya.
4. Implikasi dari teori belajar humanistik
salah satunya guru sebagai fasilitator. Guru yang
fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa,
meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik, dan sebagainya.
5. Penerapan atau aplikasi teori belajar
humanistik ini tercermin dari peserta didik yang berperan
sebagai pelaku utama yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri,
sedangkan guru sebagai fasilitator (pendamping) dan motivator.
DAFTAR PUSTAKA
Darsono, Max. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP
Semarang Press
Hadis, Abdul. 2006. Psikologi Dalam
Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Yogyakarta:
Andi Offset
Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi
Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Thobroni dan Alif Mustofa. 2011. Belajar dan pembelajaran universitas.
Bandung: Pustaka Belajar